Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Garut — Kabupaten Garut adalah salah satu daerah terluas di Jawa Barat. Luasnya itu berkah, tapi juga tantangan — karena pembangunan yang berjalan di pusat kota belum tentu terasa di kecamatan-kecamatan selatan. Ketimpangan itulah yang dibuka dalam forum Aspirasi Masyarakat (ASMAS) bertema “Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah” di Yayasan Abdul Fatah Ma’sum, Kampung Ciucing, Desa Saribakti, Kecamatan Peundeuy, Senin (22/6/2026).
Sebanyak 150 peserta hadir — tokoh masyarakat, ketua RT/RW, kepala desa, perwakilan pemerintah daerah, dan warga umum. Mereka datang bukan untuk mendengarkan paparan, tapi untuk bicara langsung.
Forum ini dipimpin oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Imas Aan Ubudiah, sebagai pembicara utama sekaligus penampung aspirasi. Dengan format diskusi terbuka, setiap peserta diberi ruang menyampaikan persoalan di wilayahnya tanpa protokol panjang.
Yang keluar dari forum ini cukup gamblang. Garut Selatan — termasuk Peundeuy dan kecamatan-kecamatan sekitarnya — masih tertinggal dalam hal infrastruktur dasar. Jalan desa dan jalan antar kampung banyak yang rusak parah, sebagian belum diaspal. Di musim hujan, akses menjadi sangat sulit. Dampaknya langsung ke ekonomi: biaya distribusi hasil pertanian membengkak, harga jual di tingkat petani jatuh, dan mobilitas warga terhambat.
Selain jalan, peserta menyampaikan aspirasi soal pemerataan layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, dan infrastruktur pendukung pertanian. Semua isu itu terhubung ke satu akar yang sama: pembangunan di Garut masih terpusat di wilayah utara, sementara selatan belum kebagian secara proporsional.
Imas tidak membantah realitas itu. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa forum ASMAS ini ada justru untuk menjadi jembatan antara suara warga dan kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.
“Garut itu luas. Tapi luas bukan alasan untuk tidak merata. Kalau pembangunan hanya terasa di pusat kota, berarti ada yang salah dengan perencanaan dan prioritasnya. Hari ini saya dengar langsung dari warga — dan ini yang akan saya bawa ke Jakarta,” ujar legislator asal Dapil Jawa Barat XI, Garut-Tasikmalaya itu.
Imas mendorong agar percepatan pembangunan di Garut tidak hanya diukur dari proyek besar di kawasan strategis, tapi juga dari seberapa cepat infrastruktur dasar sampai ke kecamatan pelosok. Ia menyoroti pentingnya sinkronisasi antara anggaran pusat dan daerah, agar program-program pembangunan tidak tumpang tindih dan benar-benar menjangkau wilayah yang selama ini luput.
“Percepatan pembangunan itu bukan soal membangun yang sudah bagus jadi lebih bagus. Tapi soal memastikan yang belum punya apa-apa mulai tersentuh. Itu yang harus jadi ukuran kita bersama,” tegasnya.
Perwakilan pemerintah daerah yang hadir menyambut positif forum ini dan menyatakan kesediaan untuk menindaklanjuti aspirasi yang tercatat. Imas meminta seluruh hasil diskusi diterjemahkan ke dalam langkah konkret dengan timeline yang jelas — bukan hanya menjadi notulen yang disimpan di laci.
Kegiatan ASMAS merupakan bagian dari komitmen Teh Imas untuk menjaga komunikasi langsung dengan konstituen di Dapil Jawa Barat XI, di luar agenda formal reses DPR RI.