Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Garut — Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Imas Aan Ubudiah, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Bulog Garut di Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (22/6/2026). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengawasan langsung terhadap kondisi stok dan kualitas beras yang dikelola Bulog di tingkat daerah.
Imas meninjau gudang penyimpanan, memeriksa kondisi fisik beras yang tersimpan, dan berdiskusi dengan Kepala Bulog Garut mengenai realisasi penyerapan gabah petani serta mekanisme distribusi ke masyarakat.
Per Mei 2026, stok beras di Garut tercatat sekitar 14.000 ton — 2.700 ton di gudang utama Bulog dan sisanya tersebar di empat gudang mitra. Secara kuantitas, angka itu dinilai aman untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. Dari sisi kualitas, Imas mengakui kondisi beras di gudang cukup baik — penyimpanan terjaga, rotasi stok berjalan, dan standar mutu terpenuhi.
Tapi bagi Imas, pemeriksaan di gudang baru setengah jalan. Yang ia tekankan justru di tahap selanjutnya: distribusi.
“Di gudang saya lihat kualitasnya cukup baik. Tapi yang harus dijamin adalah kualitas itu tetap sama ketika sampai di tangan masyarakat. Jangan sampai beras yang di gudang bagus, tapi yang diterima warga sudah beda kondisinya,” ujar legislator asal Dapil Jawa Barat XI, Garut-Tasikmalaya itu.
Imas mendorong Bulog Garut untuk memperketat pengawasan di rantai distribusi — dari gudang ke titik penyaluran hingga ke penerima akhir. Termasuk memastikan beras yang disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) maupun bantuan pangan tetap dalam kondisi layak konsumsi saat diterima masyarakat.
Soal penyerapan gabah petani, Imas juga meminta Bulog tetap konsisten menjalankan amanat Inpres Nomor 4 Tahun 2026 dengan harga pembelian pemerintah Rp6.500 per kilogram. Di lapangan, harga gabah kering panen di Garut sudah bergerak di kisaran Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram. Ia menilai Bulog harus terus aktif menyerap agar petani punya kepastian pasar dan stok lokal tetap terisi.
“Bulog itu ujung tombak ketahanan pangan di daerah. Stok aman itu syarat minimum. Yang membedakan Bulog yang bekerja dengan baik dan yang tidak adalah apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya — bukan hanya angka di laporan,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Imas menyebut kunjungan ini akan menjadi bahan evaluasi yang ia bawa ke forum Komisi VI di Jakarta. (red)