Evaluasi Integrasi Moda Transportasi DIY, Teh Imas Dorong Layanan Publik yang Nyaman untuk Wisatawan

Anggota DPR RI Fraksi PKB, Teh Imas Aan Ubudiah, mengikuti agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Kunjungan kerja tersebut membahas evaluasi integrasi moda transportasi dalam mendukung aksesibilitas kawasan pariwisata di DIY. Agenda ini menjadi penting karena Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata utama, tetapi juga sebagai simpul konektivitas kawasan Joglosemar, yakni Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Dalam materi kunjungan, pembahasan mencakup kinerja operasional dan pertumbuhan trafik Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, integrasi moda transportasi, aksesibilitas kawasan pariwisata, pengembangan infrastruktur dan ekosistem bandara, transformasi digital, smart airport, hingga sinergi BUMN dalam pengembangan strategis YIA.

Teh Imas menilai, penguatan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi. Menurutnya, keberhasilan pariwisata juga sangat ditentukan oleh kemudahan akses, kenyamanan transportasi, keterhubungan antarmoda, serta dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Pariwisata tidak cukup hanya punya destinasi yang indah. Akses transportasi harus mudah, layanan harus terhubung, dan masyarakat lokal harus ikut merasakan manfaat ekonominya,” ujar Teh Imas.

Salah satu fokus penting dalam kunjungan tersebut adalah konektivitas YIA dengan pusat Kota Yogyakarta dan kawasan wisata. Dalam materi InJourney disebutkan, YIA berlokasi sekitar 45 kilometer dari Kota Yogyakarta dan memiliki konektivitas multimoda, termasuk layanan KA Bandara dengan waktu tempuh sekitar 35–40 menit.

Selain KA Bandara, integrasi juga mencakup layanan bus DAMRI, pengembangan jalan tol, serta layanan pendukung lain untuk memudahkan pergerakan wisatawan dari titik kedatangan menuju destinasi wisata. Bus DAMRI menjadi salah satu layanan yang menghubungkan YIA dengan Yogyakarta, Terminal Condongcatur, serta beberapa daerah seperti Magelang dan Kebumen.

Teh Imas menekankan, integrasi antarmoda harus benar-benar dirancang dari sudut pandang kebutuhan masyarakat dan wisatawan. Mulai dari kedatangan di bandara, perjalanan menuju pusat kota, hingga akses akhir menuju destinasi wisata harus dibuat mudah, nyaman, terjangkau, dan informatif.

“Yang harus dikawal bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga pengalaman masyarakat dalam menggunakan layanan. Dari bandara ke stasiun, dari stasiun ke destinasi, semuanya harus mudah dipahami dan nyaman digunakan,” katanya.

Dari sisi perkeretaapian, materi PT KAI menjelaskan bahwa layanan KAI di Yogyakarta meliputi KA jarak jauh, KA Commuter, dan KA Bandara YIA. KA jarak jauh menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Sementara KA Bandara YIA menjadi penghubung penting antara bandara dan pusat Kota Yogyakarta.

KAI juga menyiapkan strategi layanan terintegrasi untuk kawasan wisata, yakni KA antarkota membawa wisatawan dari kota asal ke Yogyakarta, KRL dan KA lokal melayani pergerakan regional Yogyakarta–Solo–Kutoarjo, KA Bandara menghubungkan YIA dengan pusat kota, lalu moda feeder mengantar wisatawan menuju destinasi seperti Malioboro, Prambanan, Keraton, Kulon Progo, Bantul, Sleman, dan kawasan sekitar DIY.

Menurut Teh Imas, konsep tersebut penting karena pariwisata tidak boleh hanya berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan. Lebih jauh, pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi lokal, membuka ruang bagi UMKM, memperkuat pelaku jasa transportasi, serta memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar destinasi.

“Transportasi yang terintegrasi akan membuat wisatawan lebih nyaman. Tapi yang tidak kalah penting, ekonomi lokal juga harus ikut bergerak. UMKM, pelaku jasa, dan masyarakat sekitar destinasi harus menjadi bagian dari pertumbuhan pariwisata,” tegasnya.

Kunjungan kerja ini juga menyoroti penguatan konektivitas kawasan Joglosemar. Dalam materi Jasa Marga, jaringan Joglosemar terdiri dari Jalan Tol Semarang–Solo, Jalan Tol Solo–Yogyakarta–NYIA Kulon Progo, dan Jalan Tol Yogyakarta–Bawen. Jaringan ini dinilai berperan menghubungkan destinasi pariwisata sekaligus memperlancar distribusi logistik untuk mendukung Joglosemar sebagai segitiga emas ekonomi dan pariwisata.

Teh Imas berharap evaluasi yang dilakukan Komisi VI DPR RI dapat mendorong sinergi lebih kuat antara BUMN transportasi, pengelola bandara, operator kereta, layanan bus, pengelola jalan tol, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata.

Menurutnya, integrasi transportasi harus menjadi bagian dari strategi besar membangun pariwisata yang inklusif, ramah wisatawan, dan berdampak langsung bagi ekonomi masyarakat.

“Konektivitas yang baik akan memperpendek jarak, mempercepat pergerakan, dan memperluas manfaat ekonomi. Inilah yang harus terus kita kawal agar pariwisata tumbuh bersama masyarakat,” pungkas Teh Imas.

entertimes
entertimes
Articles: 24

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *